Boring
Bosan dan bad mood menghiggap saat matahari tengah terik sangat. Benar-benar
menyiksa. Semua memang ada, tapi sibuk dengan keasyikannya sendiri. Rasanya
mata pelajaran Sosiologi yang dulu pernah kutempuh saat SMA walau hanya satu
tahun tak berlaku. Engap rasanya dan ingin teriak. Keluhan-keluhan lain pun
menyusul. Banyak dan tak bisa diceritakan.
Adakah yang bisa kuajak bicara atau
berbagi ? padahal aku telah memutuskan berangkat kembali untuk mencari siapapun
yang bisa kuajak bicara atau berbagi. Huft,,,aku terlanjur menginginkan itu.
Sungguh kasihan aku melihat diriku sendiri yang amat membutuhkan teman bicara
atau berbagi.
Ya, sudahlah aku akan berbagi dengan
kau yang akupun bingung harus menyebutmu apa. Biarlah agar hatiku lega. Mulai….
Aku seorang yang bergolongan darah O
dan menyukai warna biru. Karena setidaknya dua karateristikku itu, membuatku
menjadi seorang yang sensitiv. Kadang begitu ceria dan tanpa beban hidup,
tetapi kadang menjadi murung dan kekurangan semangat hidup. Yang lebih parah
dan sering membuatku tersiksa adalah ketika aku tiba-tiba merasa kekurangan
semangat hidup tanpa kuketahui apa alasannya. Saat itulah aku kadang menangis
tanpa sebab.
Seperti dua hari terakhir ini, saat sepulang
dari Festival Pertanian, Sabtu lalu. Saat duduk di bus yang melaju pelan,
mataku terasa ingin menangis. Aku juga tak tahu apa penyebabnya. Sudah kucoba
bendung, namun tak bisa. Air mata pertama menetes dan disusul tetesan air mata
selanjutnya dan terus mengalir. Lagu-lagu yang diputar sungguh menambah deras
air mataku, padahal tak ada yang mewakili cerita hidupku ataupun mewakili kisah
terakhirku. Semua itu tak ada yang mengetahui. Semua tertidur dalam penat
mereka. Biarlah, justru aku bersyukur karena saat-saat seperti ini aku butuh waktu
untuk sendiri.
Saat
teman satu bangkuku terbangun dan saat aku tak bisa memejamkan mataku.
Aku masih
terdiam dalam kegalauan. Kegalauan yang tak kutahui. Tetapi satu hal yang
sedikit membuatku yakin bahwa inilah yang membuatku merasa galau. Yakni sepi.
Ada rasa dan situasi yang tak biasa terjadi yang seharusnya inilah moment
puncak situasi yang biasa terjadi. Aku ingin lebih terbuka padamu, tapi aku
sendiripun masih takut pada perasaan yang terlalu cepat ini. Ambigu…
Maafkan aku, sobat. Aku tak bisa terbuka
padamu. Aku harap kau memahami kondisiku saat ini. Sampai suatu saat nanti aku
akan benar-benar menceritakan semuanya padamu.
Kemarin aku menceritakan kegundahan hatiku
pada seorang sahabat. Aku bersyukur berbagi dengannya. Dia memberiku beberapa
nasihat. Akupun sadar bahwa ada bintang yang berpijar lebih terang. Sebelum
semua ini terjadipun aku tahu itu bintang yang berpijar. Namun ketika aku ingin
melangkah, semua terhenti dengan kabar bahwa bintang itu menginginkan mentari
di ujung sana yang mungkin baginya lebih terang ketimbang mentari yang
kumiliki.
Maka dari itu, aku memilih mundur
sebelum melangkah walau hanya satu langkah. Dan ada bintang lain yang
menawarkan tawanya untukku. Itulah bagian dari flashback.
Lalu, yang kini terjadi justru aku takut
dengan sinarnya yang membuatku bertanya, “apakah sinarnya benar untukku ?”
walau mereka mengatakan “iya” atau melihat sisi yang sama denganku. Tetapi aku
tak tahu isi di dalam dirinya.
Yang kini tengah kupikirkan adalah bagaimana
agar aku tak terlalu berharap dengan tawa yang entah tulus atau bagian dari
skenario atau semua sebenarnya biasa saja. Ya Allah, Tuhanku…aku hambamu yang
tak pernah menawarkan diri untuk terjebak dalam situasi seperti ini. Walau aku
yakin tak ada yang tak bermaksud dengan semua ini, namun aku mohon bawalah aku
pada perasaan yang benar dan tak lagi membuatku kecewa. Ya Allah.
Aku seorang yang terbiasa merasakan kecewa
dan tak ingin lagi. Meski tak mungkin.
Aku seorang yang tak ingin menjadi seorang yang selalu bingung dengan perasaanku.
Ya Allah, apa maksud semua ini ? Semoga besok
aku tahu apa maksud semua ini. Amin.
Banjarnegara, 26 Oktober 2015
Indah Dwi Ambarwati