Menangis
Aku tidak menyangka akan meneteskan air mata untuk hari ini.
Memang telah ada pertanda sebelumnya, tapi aku tak tahu saat itu.
Ada rasa tak terlalu berniat untuk berangkat yang niat
kemarin adalah membuat isi untuk mading. Entah karena ketidakhadiran sahabatku
atau entah apalah. Rasanya malas. Aku berangkat 2 jam lebih siang dari
perjanjian awal. Walau begitu, aku tetap melangkah.
Ada suatu situasi yang di luar dugaan. Usai mengerjakan
sholat, laptopku low battery dan
listrik mati. Aku memilih menutup laptop dan menulis sesuatu. Menulis artkel.
Tapi rasanya tak begitu ada inspirasi. Aku memilih pindah posisi menuju kelas.
Ada seorang kawan. Aku tak peduli dan kami memang tak saling peduli. Aku
kembali melanjutkan menulis. Satu topik, salah. Topik kedua, salah. Akhirnya
aku menulis isi hatiku yang sedang tak menentu.
“Menanti
dan menghitung detik menuju menit, menuju jam. Itu lebih baik daripada menanti
tanah berubah menjadi air atau menanti ada seekor kucing berbicara. Tak tahu
sampai kapan, dengan kata lain “menanti sesuatu yang tak pasti.
Bahkan
yang lebih parah lagi, ketika kita tidak tahu apa yang kita tunggu. Tapi ada
rasa gelisah yang sering menyelimuti meminta untuk segera tenang. Jangankan
memikirkan solusi yang harus dilakukan, dia sendiri tak tahu apa yang
membuatnya gelisah.
Aku
mengambil langkah untuk memejamkan mata. Terlihat wajah yang orang-orang yang
kusayangi yang pernah dan masih ada di dalam hati. Ayah dan ibuku. Hari ini
ulang tahun ibuku. Tapi, aku tak bisa memberi apa-apa padanya. Sejauh ini aku
belum bisa membanggakan dan membahagiakannya. Aku malu.
Akhirnya
aku tahu apa yang membuatku kadang merasa gelisah tanpa alasan. Aku harus
berjanji untuk menjadi oran gsukses dan berbakti pada orang tuaku. Minimal saat
ini yang bisa kulakukan adalah tidak membuatnya sedih, menuruti apa sarrannya
dan dapat berprestasi. Tidak membuatnya malu.
Aku
tidak boleh hanya bisa menangis, meratap dan mengutuki diri.”
02;30 PM Sabtu, 5
Desember 2015
Dan memang saat itu aku menangis dan aku tak peduli pada
sekitar, walau ada orang. Toh aku duluan yang masuk. Aku berhenti saat seorang
kawanku datang dan meledek. Aku kembali seperti semula, tapi dengan tagihanku
menangis nanti di rumah.
Banjarnegara, 5 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar