Kamis, 04 Februari 2016

Mengapa



Menangis
Aku tidak menyangka akan meneteskan air mata untuk hari ini. Memang telah ada pertanda sebelumnya, tapi aku tak tahu saat itu.
Ada rasa tak terlalu berniat untuk berangkat yang niat kemarin adalah membuat isi untuk mading. Entah karena ketidakhadiran sahabatku atau entah apalah. Rasanya malas. Aku berangkat 2 jam lebih siang dari perjanjian awal. Walau begitu, aku tetap melangkah.
Ada suatu situasi yang di luar dugaan. Usai mengerjakan sholat, laptopku low battery dan listrik mati. Aku memilih menutup laptop dan menulis sesuatu. Menulis artkel. Tapi rasanya tak begitu ada inspirasi. Aku memilih pindah posisi menuju kelas. Ada seorang kawan. Aku tak peduli dan kami memang tak saling peduli. Aku kembali melanjutkan menulis. Satu topik, salah. Topik kedua, salah. Akhirnya aku menulis isi hatiku yang sedang tak menentu.
       “Menanti dan menghitung detik menuju menit, menuju jam. Itu lebih baik daripada menanti tanah berubah menjadi air atau menanti ada seekor kucing berbicara. Tak tahu sampai kapan, dengan kata lain “menanti sesuatu yang tak pasti.
       Bahkan yang lebih parah lagi, ketika kita tidak tahu apa yang kita tunggu. Tapi ada rasa gelisah yang sering menyelimuti meminta untuk segera tenang. Jangankan memikirkan solusi yang harus dilakukan, dia sendiri tak tahu apa yang membuatnya gelisah.
       Aku mengambil langkah untuk memejamkan mata. Terlihat wajah yang orang-orang yang kusayangi yang pernah dan masih ada di dalam hati. Ayah dan ibuku. Hari ini ulang tahun ibuku. Tapi, aku tak bisa memberi apa-apa padanya. Sejauh ini aku belum bisa membanggakan dan membahagiakannya. Aku malu.
       Akhirnya aku tahu apa yang membuatku kadang merasa gelisah tanpa alasan. Aku harus berjanji untuk menjadi oran gsukses dan berbakti pada orang tuaku. Minimal saat ini yang bisa kulakukan adalah tidak membuatnya sedih, menuruti apa sarrannya dan dapat berprestasi. Tidak membuatnya malu.
                Aku tidak boleh hanya bisa menangis, meratap dan mengutuki diri.”

02;30 PM   Sabtu, 5 Desember 2015

Dan memang saat itu aku menangis dan aku tak peduli pada sekitar, walau ada orang. Toh aku duluan yang masuk. Aku berhenti saat seorang kawanku datang dan meledek. Aku kembali seperti semula, tapi dengan tagihanku menangis nanti di rumah.

Banjarnegara, 5 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar