Senin, 22 Februari 2016

problem



Skandal
Aku bersama skandalku yang beralasan
Siapa yang tahu ada banyak hitam di waktu yang lalu
Siapa yang tahu ada beban dibalik skandal
Ya, mereka mengatakan ini skandal

Aku tak tahu apa yang aku pikirkan kini
Aku tak mampu bicara
Mereka mempercayakannya padaku
Ini demi mereka

Aku seolah persetan pada sebab akibat
Ego
Bengis
Bedebah
Iblis
Tikus ?
Ular
Buaya

Aku berdosa ?
Aku kambing hitam ?
Aku alat ?
Aku bukan manusia ?

Akukah alat dari manusia yang haus kebahagiaan ?
Akukah alat dari manusia yang menuntut keadilan ?
Akukah alat dari manusia yang hitam dan sangat hitam ?

Aku
Menjelma hitam dalam mata malaikat ?
Menjelma iblis dalam nafas Tuhan ?

Aku
Tak ada yang peduli kata “rumit”
“Ini ringan, tak seberapa, kecil dan tak guna”
Celoteh mereka

Tak tahu arti “rumit” dalam mataku
(egois)
Tak tahu banyak yang lebih iblis
(ibliskah aku ?)

Tuhan, aku sadar…
Kita memang berjalan sendiri
Tuhan, kirim aku temanmu
Aku kesepian
Aku ingin menagis di tangannya

Bodohkah aku meminta teman ?
Teman seorang malaikat…
yang bisa mencambukku
yang mampu merajamku
yang tega mematahkan tanganku
yang sanggup memukulku hingga berdarah
Saat aku lalai

Yang rela menghukumku apapun demi membuatku baik
Hingga sanggup membunuhku
Saat aku tak sanggup untuk berdarah lagi
Saat tak mampu melihatku sakit lagi

Semua ini karena skandal yang beralasan
Skandal yang membuatku jahat dan iblis

Banjarnegara, 20 Februari 2016

Kamis, 11 Februari 2016

Sesal atau Bingung (langsung dari sini)

Aku di sini bersama mereka yang tengah sibuk dengan urusan mereka sendiri. Akupun sedang sibuk dengan yang kuhadapi kini. Aku yang terlalu cepat menilai itu penting atau aku yang terlalu bodoh untuk tidak menggunakan kesempatan ini. Atau aku yang terlalu bingung untuk hari ke depan saat kembali dengan situasi itu lagi.
Ini terjadi dua kali dalam hidupku, namun dengankasus yang berbeda. Kasus pertama terjadi setelah semua kusesali dan aku masih merasa punya kesempatan. Aku tak mau kesempatan itu berlalu begitu saja, lalu aku menggunakan kesempatan itu karena aku tak mau menyesal. Aku cukup lega walau akhirnya aku harus kecewa. Setidaknya aku bisa berani untuk melakukan itu.
Kasus kedua, kasus yang baru saja terjadi. Entah aku harus merasa bagaimana. Lega, kecewa atau sedih. Aku bingung. Aku harus memulai lagi kisah yang berbeda. Aku harus tersenyum lepas atau berada dalam skenario.
Aku di sini yang terlalu merasa kebingungan. Menambah masalah. Aku tidak ingin membuat orang lain lebih susah.
Baru kusadari tadi ketika aku berbicara dengan seorang yang berada di tengah kita. Semua pasti ada dampak positif dan negatif. Justru dampak negatif itu yang selalu menghantuiku. Aku takut menambah masalahnya.
Biarlah nanti bagaimana harus kujalani semua. Aku ingin semua baik-baik saja. Kata "tak apa" darinya justru semakin membuatku merasa bersalah karena menambah masalahnya. Yang kuinginkan hanya menjadi teman berbagi. Tak lebih.


Rabu, 10 Februari 2016

sajakku untuk mimpiku yang kini hanya butuh kucintai



Sajak Bulir Cinta

Aku. Dan hanya aku yang akan mengisi kisah-kisah di catatan ini.
Aku. Dan aku yang tengah bimbang denganku yang memang sudah biasa terjadi pada keputusan kecil ataupun besar. Dan kini aku yang mengingat tragedi kemarin dimana ak akan mengkhianati cintaku.
Dan kini yang aku pikirkan, ketika nantinya aku benar-benar berpaling, apakah kemudian aku akan merasakan yang dinamakan orang cinta lama bersemi kembali ?
Aku mencintai ini semenjak dulu, ini adalah gebetanku sejak dua tahun lalu. Apakah saat aku mendapatkannya dengan tanpa syarat dan cukup mencintainya dengan menerima kekurangannya, aku tak mampu ? Apakah aku terlalu khawatir jika ini nantinya tak cukup membuatku bahagia ?
Terserah ketika mereka yang selama ini membuatku semakin mencintai ini, justru mereka akan meninggalkan kita hanya sebagai aku yang sedang berusaha mempertahankan cinta ini.
Mengapa banyak sekali pihak yang menentang cinta ini ? Cinta antara aku padamu untuk mereka. Cintaku padamu seperti menanti pucuk-pucuk benih padi menjadi bulir-bulir putih air mata ibu pertiwi.
Aku sempat merasa ragu untuk tetap mencintai ini. Aku sempat merasa khawatir tidak akan behagia dengan ini. Tapi aku akan mencoba meminta petunjuk untuk kisah cinta kita.
Mereka mencintaimu karena alasan dan alamiah. Aku mencintaimu seperti seorang mualaf yang akhirnya menemukan muara peraduan yang selama ini kubutuhkan, selama ini kuinginkan.
Aku mencintaimu sebelum mereka tahu tentangku. Aku memang manusia lancang yang mencintaimu tanpa aku tahu siapa dirimu. Yakinlah dengan cinta ini, aku akan tahu siapa dirimu.
Demi bulir keringat mereka yang mengeras menjadi bulir kehidupan semua umat. Entah apa yang nantinya akan aku perbuat untuk membuktikan cintaku padamu, tapi aku akan lakukan. Segera. Jangan tanyakan dengan apa yang akan aku lakukan. Aku tak mau cintaku diumbar.
Hingga air mataku mengalir untuk hari ini, ini semua karena merka meragukan cintaku padamu dan berhasil memnuatku goyah dengan cinta yang selama ini kupertahankan.
Aku ingin mencintaimu dengan murni. Walau aku berada di tempat yang mereka ragukan, aku akan buktikan nantinya aku akan berada di tempat bersama mereka yang cemerlang atau menjadikan tempat ini tempat yang layak untuk siapapun yang mencintai semacam kau dengan tulus.

Jika semua ini tak cukup membuktikan cintaku padamu, aku akan tunjukan. Ingatkah kau tentang puisi itu yang menjadi kenyataan ? Biarlah hanya satu yang kutunjukan padamu, biarlah kau berpikir.

#AGROTEKNOLOGI_MY_SPIRIT insyaallah

catatanku



Boring
            Bosan dan bad mood menghiggap saat matahari tengah terik sangat. Benar-benar menyiksa. Semua memang ada, tapi sibuk dengan keasyikannya sendiri. Rasanya mata pelajaran Sosiologi yang dulu pernah kutempuh saat SMA walau hanya satu tahun tak berlaku. Engap rasanya dan ingin teriak. Keluhan-keluhan lain pun menyusul. Banyak dan tak bisa diceritakan.
            Adakah yang bisa kuajak bicara atau berbagi ? padahal aku telah memutuskan berangkat kembali untuk mencari siapapun yang bisa kuajak bicara atau berbagi. Huft,,,aku terlanjur menginginkan itu. Sungguh kasihan aku melihat diriku sendiri yang amat membutuhkan teman bicara atau berbagi.
            Ya, sudahlah aku akan berbagi dengan kau yang akupun bingung harus menyebutmu apa. Biarlah agar hatiku lega. Mulai….

            Aku seorang yang bergolongan darah O dan menyukai warna biru. Karena setidaknya dua karateristikku itu, membuatku menjadi seorang yang sensitiv. Kadang begitu ceria dan tanpa beban hidup, tetapi kadang menjadi murung dan kekurangan semangat hidup. Yang lebih parah dan sering membuatku tersiksa adalah ketika aku tiba-tiba merasa kekurangan semangat hidup tanpa kuketahui apa alasannya. Saat itulah aku kadang menangis tanpa sebab.
Seperti dua hari terakhir ini, saat sepulang dari Festival Pertanian, Sabtu lalu. Saat duduk di bus yang melaju pelan, mataku terasa ingin menangis. Aku juga tak tahu apa penyebabnya. Sudah kucoba bendung, namun tak bisa. Air mata pertama menetes dan disusul tetesan air mata selanjutnya dan terus mengalir. Lagu-lagu yang diputar sungguh menambah deras air mataku, padahal tak ada yang mewakili cerita hidupku ataupun mewakili kisah terakhirku. Semua itu tak ada yang mengetahui. Semua tertidur dalam penat mereka. Biarlah, justru aku bersyukur karena saat-saat seperti ini aku butuh waktu untuk sendiri.

            Saat teman satu bangkuku terbangun dan saat aku tak bisa memejamkan mataku.
Aku masih terdiam dalam kegalauan. Kegalauan yang tak kutahui. Tetapi satu hal yang sedikit membuatku yakin bahwa inilah yang membuatku merasa galau. Yakni sepi. Ada rasa dan situasi yang tak biasa terjadi yang seharusnya inilah moment puncak situasi yang biasa terjadi. Aku ingin lebih terbuka padamu, tapi aku sendiripun masih takut pada perasaan yang terlalu cepat ini. Ambigu…
Maafkan aku, sobat. Aku tak bisa terbuka padamu. Aku harap kau memahami kondisiku saat ini. Sampai suatu saat nanti aku akan benar-benar menceritakan semuanya padamu.

Kemarin aku menceritakan kegundahan hatiku pada seorang sahabat. Aku bersyukur berbagi dengannya. Dia memberiku beberapa nasihat. Akupun sadar bahwa ada bintang yang berpijar lebih terang. Sebelum semua ini terjadipun aku tahu itu bintang yang berpijar. Namun ketika aku ingin melangkah, semua terhenti dengan kabar bahwa bintang itu menginginkan mentari di ujung sana yang mungkin baginya lebih terang ketimbang mentari yang kumiliki.
            Maka dari itu, aku memilih mundur sebelum melangkah walau hanya satu langkah. Dan ada bintang lain yang menawarkan tawanya untukku. Itulah bagian dari flashback.
Lalu, yang kini terjadi justru aku takut dengan sinarnya yang membuatku bertanya, “apakah sinarnya benar untukku ?” walau mereka mengatakan “iya” atau melihat sisi yang sama denganku. Tetapi aku tak tahu isi di dalam dirinya.
Yang kini tengah kupikirkan adalah bagaimana agar aku tak terlalu berharap dengan tawa yang entah tulus atau bagian dari skenario atau semua sebenarnya biasa saja. Ya Allah, Tuhanku…aku hambamu yang tak pernah menawarkan diri untuk terjebak dalam situasi seperti ini. Walau aku yakin tak ada yang tak bermaksud dengan semua ini, namun aku mohon bawalah aku pada perasaan yang benar dan tak lagi membuatku kecewa. Ya Allah.
Aku seorang yang terbiasa merasakan kecewa dan tak ingin lagi. Meski tak mungkin. Aku seorang yang tak ingin menjadi seorang yang selalu bingung dengan perasaanku.
Ya Allah, apa maksud semua ini ? Semoga besok aku tahu apa maksud semua ini. Amin.


Banjarnegara, 26 Oktober 2015

Indah Dwi Ambarwati